Salah satu efek dari internet adalah terbukanya kebebasan berpendapat dan mengekspresikan diri. Kalau kita surfing di net, kita bisa banyak sekali mendapatkan berbagai informasi dari berbagai sudut pandang. Sebanyak jumlah warga cyberspace, dan tentunya ditambah dengan jumlah seluruh manusia yang sudah meninggalkan alam fana tapi tetap meninggalkan jejaknya di dunia maya.
Salah satu topik yang sempat menarik perhatian saya baru-baru ini adalah tentang Islam Liberal. Saya sempat mengikuti beberapa thread tentang Islam Liberal vs Islam yang tetap berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah.
Di sini saya tidak bermaksud menulis tentang polemik kedua kubu tersebut. Saya cuma ingin curhat tentang kesan-kesan saya membaca pemikiran-pemikiran para pendukung Islam Liberal. Tentunya dari sisi seorang muslim yang masih sangat awam terhadap agamanya. Yang tidak ngelotok dalam soal dalil-dalil dst.
Kesan saya pada intinya adalah saya merasa terkesima dengan cara berpikir mereka yang sangat mendewakan “akal” (kalau buat saya pribadi, “akal” dalam konteks tersebut sebetulnya bisa dibaca sebagai “hawa nafsu”).
Seperti sudah saya bilang tadi, di sini saya tidak mau mengupas apalagi menghakimi orang-orang seperti itu. Who am I to judge them anyway? Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berusaha menempatkan Allah SWT di atas segala-galanya, saya cuma bertanya-tanya dalam hati: seandainya seorang yang menganut faham Liberal mati, gimana mereka mau bicara di hadapan Allah nanti ya? Apa mereka mau berdebat juga dengan akalnya terhadap Allah? Ah, ini cuma pertanyaan iseng aja. Pertanyaan ini nggak relevan terhadap mereka yang tidak beriman terhadap Islam tentunya, baik yang tidak beriman secara keseluruhan maupun yang tidak beriman sebagian…
Blog adalah salah satu fenomena menarik yang bisa kita temui di era internet ini. Dengan blog kita bisa melakukan sharing, baik itu ide, cerita, informasi, ataupun sekedar curhat. Lewat blog juga kita bisa berkomunikasi dan bersosialisasi, baik dengan teman-teman kita maupun dengan orang-orang yang mungkin we don’t even know physically. Yang terakhir inilah yang bisa dibilang sebagai online friends.
The wonder of the internet! Mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Hari ini saya baru menemukan lagi seorang long-lost friend melalui internet.
Hari ini ada diskusi hangat di milis tentang slang orang Malaysia (dan sebetulnya juga orang Singapore dan Brunei) terhadap orang Indonesia: Indon.
Nggak kerasa sudah hampir tanggal 20 Agustus. Jadi sudah nyaris 3 hari lewat dari Hari Kemerdekaan RI. Rasanya hari-hari berlalu begitu aja. Nggak ada bedanya.
Konon hidup seorang pekerja IT, apalagi yang berbasiskan projek, kadang tidak mengenal batas waktu. Pernyataan itu ada benarnya. Contohnya ya saya ini, hari minggu pun harus masuk kerja karena ada deadline yang harus dikejar hari Senin pagi besok.